Sidang Skripsi

Entah cerita ini harus dimulai dari sebelah mana (karena telah begitu lamanya gw gak update blog), tapi beginilah kira2 apa yang gw alami beberapa saat dan sesaat setelah sidang skripsi.

Senin, 20 Februari 2012

Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, feeling gw terlalu santai untuk sebuah sidang akhir. Entah kenapa, dari sekian banyak sidang yang telah gw lewati, hanya pada sidang inilah gw merasa terlalu santai. Seperti punya pertanda, bahwa gw gak akan berhasil di sidang ini. Yap, and bang! Perjalanan gw untuk menjadi seorang sarjana Psikologi harus tertunda sementara waktu. Yap! “sementara waktu”. Siang itu yang gw rasain hanya kabut kekecewaan. Gak ada rasa bahagia atau apapun. Gw kecewa atas hasil yang gw terima. Atas semua kerja keras yang ternyata tidak mendapatkan pembelaan dari pihak yang gw anggap bisa memberikan sedikit saja pembelaan. Saat itu gw merasa seperti didorong dari sebuah gedung tinggi, “hush!!” ketika salah satu dari ketiga orang penguji mengatakan “maaf Wanda, skripsi kamu belum bisa kami terima”. Bahkan, hingga detik ini, gw masih bisa merasakan betapa merindingnya gw saat itu dan betapa kerasnya usaha gw untuk menahan tangis. Di balik itu semua, gw tau dan sadar betul bahwa tangisan gak akan mengubah segalanya. Mereka pun akhirnya memberikan waktu buat gw memperbaiki beberapa kesalahan dalam naskah skripsi gw. Dan Jum’at 24 Februari gw harus sidang ulang.

Selasa, 21 Februari 2012

Gw memutuskan untuk kembali ke kampus dan berharap ada sedikit pencerahan yang bisa gw dapetin dari sebuah ruang penuh buku yang biasa dikenal dengan sebutan perpustakaan. Yap! Entah berapa judul buku yang gw keluarin demi mendapatkan referensi tambahan. Pagi itu, gw berharap gak ada orang lain yang melihat gw dan berusaha membuat gw lebih tegar. Gw gak ingin orang lain tau, apa yang gw rasain saat itu.

 

But, thank God. Tuhan kasih gw sedikit pencerahan, gw harus MOVE ON dan benar-benar sadar bahwa Tuhan kasih pencobaan ini supaya gw bisa lebih tegar dan lebih percaya sama kemampuan gw.

 

Rabu, 22 Februari 2012

Pagi ini gw tersentak melihat begitu banyak hal yang harus gw kerjakan, sementara gw masih berada di halaman yang sama. Semua wanita bahkan tau kalau menangis itu gak akan memberikan dampak apapun. Tapi entah kenapa, gw menangis. Cuma dengan tangisan, gw bisa mengeluarkan seluruh perasaan yang selama ini terpendam. Tentang bagaimana kekecewaan yang gw rasakan, tentang bagaimana rasanya ketika skripsi loe belum diterima. Tentang bagaimana hal-hal lain yang belum terurus. Tentang bagaimana cara menghitung norma yang benar. Tentang bagaimana ini harus selesai tepat waktu dan besok hari pengumpulannya. Tentang ini dan tentang itu… Dalam hati, gw berusaha percaya bahwa gw bisa melakukannya, melewatinya, bergerak maju ke depan dengan sebuah pengharapan..

Jum’at, 24 Februari 2012

Hari ini, penentuannya. Perjalanan hari ini begitu menyenangkan. Tidak ada kemacetan yang terlampau parah menghiasi ibukota saat itu. Jadwal sidang gw hari ini pukul 16.30 WIB dan gak ada rasa gugup sama sekali, yang ada hanyalah perasaan risau kala menunggu rekan yang juga sedang mengikuti ujian ulang. Sebut saja F. Saat itu, F keluar dari ruangan, menanti hasil diskusi para penguji yang akan menentukan kelulusannya. Tak berapa lama menjelang, F kembali memasuki ruangan sidang. Kami akhirnya hanya bisa memandangi dari sela-sela kaca ruangan yang transparan. F nampak berulang kali menghela nafas dan mengelurakan sapu tangan dari balik meja. Ia mengusap air matanya. Hal itu bener-bener jadi sebuah batu besar yang kemudian kembali membuat gw risau. F kemudian keluar dari ruangan itu. Masih dengan sebuah sapu tangan yang ia genggam. Ia tahu betul bahwa ia adalah seorang pria. Seorang pria yang mungkin tidak wajar jika menangis. Tapi lagi-lagi ia juga tahu betul bahwa apa yang ia kerjakan sudah sesuai dengan kapasitasnya. Dan ia tidak malu untuk mengeluarkan air mata karena kegagalannya itu.

Kini, giliran gw yang harus masuk ke dalam ruangan itu. Duduk di kursi panas. Menjelaskan kembali apa yang mungkin tidak terjelaskan pada sidang awal. 15 menit berlalu dengan sempurna. Gw bisa melihat sosok laki-laki di sudut luar ruangan. Ia tampak begitu antusias memandangi gw presentasi. Ia, memberikan senyumnya sambil berusaha membuat gw tenang. 30 menit berlalu dengan lancar. Hingga tiba saat-saat dimana penguji mengajukan pertanyaan. Dari sekian banyak pertanyaan yang mereka ajukan, gw tahu dengan pasti jawaban apa yang harus gw keluarkan saat itu. Dan gak jarang pula, hasil yang gw tuliskan dalam naskah skripsi itu membuat salah satu dari penguji kagum dan bangga. Beliau bilang “Nah, ini bisa toh. Coba kemarin langsung begini, pasti bisa dapet A. Hebat juga kamu. Wanda ini sebenarnya pintar toh.” Sebuah kalimat yang membuat gw sedikit tenang. Hingga tibalah saat-saat penentuan. Penguji mempersilahkan gw untuk menunggu di luar ruangan. Tak berapa lama berselang, akhirnya mereka memanggil gw masuk. Dari sekian banyak hal yang mereka omongin, satu hal yang gw tunggu-tunggu adalah sebuah kalimat yang menyatakan bahwa skripsi gw diterima dan gw lulus. Yapp! Dan benar! Gw lulus. Terima kasih banyak untuk Tuhan Yesus yang selalu meneguhkan iman gw dan membuat gw percaya bahwa apa yang Ia berikan itu sesuai dengan kehendak-Nya. Bahwa segala sesuatu yang ia lakukan terhadap gw sudah sesuai dengan rencana-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s