Keep it / throw it ?

keep it? throw it? masalah cinta emang ga pernah ada matinya. ada yang putus, ada pula yang jadian. ada yang lagi berbunga-bunga dan ada juga yang patah hati.

tapi kapan-kah saat yang tepat untuk mempertahankan seseorang yang memang pantas untuk dipertahankan? atau kapankah saat yang tepat untuk melepaskan seseorang yang memang pantas untuk dilepaskan? oke, mulai dari seorang sahabat yang sedang jatuh cinta sepertinya akan jadi contoh yang baik. beliau berinisial AR, yang sekarang lagi dalam masa PDKT. haha. Tapi mereka memutuskan untuk ‘lose contact’ selama 1 bulan. kenapa? AR mengatakan bahwa, ia hanya ingin memastikan apakah memang ada ‘rasa’ untuk orang tersebut. g rasa, itu cukup unik, secara hari gini orang jadian tuh kek ngebalikin telapak tangan. gampang banget! hari ini jadian eh besok udah putus. whatt? bahkan ada yang hanya bertahan beberapa menit. ada pula yang dimulai dengan masa pdkt beberapa menit saja bisa langsung memutuskan untuk menjalin asmara. hoekk! balik lagi ke masalah AR, AR melakukan itu semua agar ia yakin dengan pilihan hatinya, seandainya-pun pihak yang bersangkutan tidak memiliki perasaan yang sama dengan yang AR rasakan, paling tidak AR telah yakin bahwa ia pantas mempertahankan perasaan itu.

lalu kapan kita bisa memutuskan untuk melakukan hal yang benar atau mungkin tepat? benar buat kita belum tentu tepat buat orang lain. kedua hal itu terlihat sama, tapi ternyata memiliki makna yang berbeda. keduanya sama-sama suatu hal yang subjektif. baik menurut kalian belum tentu baik menurut oranglain, bukan?

jadi masalah waktu, itu semua berbeda pada tiap orang. ada yang hanya butuh waktu sebentar untuk memutuskan ia dapat melepaskan seseorang terlebih dari itu membuang seseorang. ada pula yang butuh waktu lama untuk bisa meyakinkan dirinya bahwa orang itu memang sudah tidak baik bagi dirinya. bahkan butuh orang lain untuk dapat menunjukkan bahwa orang tersebut sudah tidak layak untuk dipertahankan. ada banyak hal yang musti diperhitungkan, cinta memang penting, tapi kalau tidak memberikan dampak positif untuk kedua belah pihak, buat apa dilanjutin? yang ada malah semakin membuat hati sakit.

oke, lanjut ke contoh berikutnya, ada temen deket yang pernah sharing kalau dirinya itu pengen banget putus sama pacarnya. dari penuturannya beliau bilang bahwa pacarnya itu suka main tangan dan omongannya pedes banget. menurut g, itu udah jadi alasan jelas dong untuk melepaskan sang pacar? tapi menurut dia, ngga! bahkan pernah suatu hari pacarnya itu minta maaf dan berjanji untuk yang kesekian kalinya ngga akan mengulangi hal yang sama. tapi apakah hal tersebut worth it dengan rasa sakit yang uda dirasakan berkali-kali? tentu tidak! tapi orang yang satu ini tetep ngeyel, dia bilang g mau nyobain lagi, mungkin aja dia akan berubah. tapi sampe sekarang pun, g masih denger tuh soal omongan dia yang bilang mau putus tapi tetep aja dipertahanin. ahh! dasar buta!!

tetep aja sih, sepanjang apapun saya corat coret disini, semua keputusan balik lagi ke tangan dan otak anda masing-masing. mau dilanjutin, yahh silahkeuun, kalo mau diputusin yahh monggo. yang penting kalian sudah tau konsekuensi dari setiap keputusan yang kalian ambil πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s