Hell-O World !!

Postingan kali ini gak terlalu penting dibandingkan dengan yang lainnya. Saya disini hanya ingin mencurahkan isi hati saya #halah. Sekarang, di tempat saya menulis semua ini, pukul setengah 12 malam di kost-an seorang sahabat, di tengah kegiatan tugas menugas dan penuh dengan tekanan fisik.

Betapa mengherankan melihat kenyataan bahwa, saya bukannya membantu teman saya untuk menyelesaikan tugas akhir kami, tapi inilah saya. Bisa dipastikan, sedang duduk manis di depan laptop pinjeman seorang teman yang sudah tertidur pulas. Sementara saya, masih punya niat besar untuk sedikit menorehkan curhatan tengah malam saya.

Arhh. Mungkin inilah yang disebut dengan “under pressure” atau bisa dikatakan juga sebagai burn out. Saya sudah terlalu capek dengan tugas-tugas yang membebani. Tapi inilah saya, seorang mahasiswa semester 5 jurusan psikologi di sebuah universitas swasta di Jakarta Barat. Beberapa orang mengatakan bahwa kalau loe udah siap dengan keputusan untuk kuliah, maka loe juga harus berani nanggung resikonya. Hmm, mungkin dalam hal ini resiko yang dimaksud adalah sekumpulan kewajiban mahasiswa yang harus, kudu, dan wajib dilaksanakan alias TUGAS. Belum lagi masalah skripsi.

Bicara soal skripsi, apa sih yang kemudian membuat skripsi menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan mahasiswanya. Mungkin pertanyaan ini jelas terlalu eksentrik, tapi memang kadang kurang masuk akal aja kalo skripsi bahkan dengan nilai IPK seseorang menjadi salah satu penentu keberhasilan seseorang di masa yang akan datang.

Kalau bicara bahasa kasarnya sih yahh, belum tentu orang yang IPK nya tinggi bakalan jadi orang yang berhasil atau bahkan sukses di masa yang akan datang. Apa ada jaminannya gitu? Jaman gini nyari kerja itu susah, orang yang pintar di teori belum tentu bisa di soft-skillnya. Jadi apa masih bisa kita mengandalkan kemampuan teori dan kawan-kawannya, kalau bahkan gak dipakai sama sekali di bidang pekerjaan nanti.

You know ’cause sometimes you learnt from your experience, right?

Jadi intinya buat apa sih kita harus capek-capek belajar kalau bahkan hampir tiap harinya kita belajar melalui pengalaman?

Sudah deh, jangan terlalu dianggap dengan postingan ini, namanya juga @weirdowanda πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s