Downward / Upward Social Comparison ?

Kamu pasti pernah dong mengalami yang namanya iri?

Siapa sih yang ngga ngiri kalau liat temen pegang i-phone 4 di tangan kiri dan blackberry torch warna putih di tangan kanannya? Belum lagi ada i-Pad di dalam tasnya. Sementara kamu, punya handphone yang bisa sms + telepon + kamera aja udah beryukur banget. Wahh pasti ngirinya minta ampun deh. Kamu pasti berharap bahwa suatu saat kamu akan jadi orang yang beruntung seperti halnya teman kamu itu. Berharap bahwa suatu saat akan kejatuhan i-phone dari langit, atau bahkan dibeliin sama orangtua iPad.

Beda halnya kalau kamu yang berada di posisi teman itu. Pernahkah kamu berpikir bahwa bergelimangan harta akan membuat seseorang bahagia? Dilihat dari segi materi, mungkin beliau sudah punya segalanya. Mau ini tinggal ambil, tinggal gesek. Tapi apakah sebenarnya mereka membutuhkan? Pernahkah kamu berpikir bahwa orang tersebut sebenarnya tidak ingin menghabiskan uangnya hanya untuk hal-hal yang tidak dibutuhkan?

Kenapa saya berani bertanya seperti itu? Oke. Lihat kembali bahwa dalam masyarakat, kita tidak melulu berada di posisi bawah, ada kalanya ketika kita berada pada posisi atas. Mungkin di antara kerumunan orang-orang yang elite, kamu adalah orang dengan kemampuan ekonomi menengah. Tapi bagaimana ketika kamu berada pada kerumunan orang-orang yang tidak punya. Apakah kamu akan merasa iri juga kepada mereka? Atau mungkin kamu merasa iba?

Nah, itu point yang ingin saya angkat dalam postingan kali ini. Ada satu hal dimana kita seharusnya bisa bersyukur atas keadaan yang kita miliki sekarang dan tidak membandingkannya dengan orang-orang di atas kita. Terlalu sering melakukan upward social comparison tidak baik untuk kesehatan. Begitu halnya dengan downward social comparison. Mengapa? Coba perhatikan bila kamu mendapatkan nilai 55 dalam ujian matematika kamu, atau pada tes mid-semester kuliah kamu. Pernah merasa puas? Senang? Atau sedih? Semua perasaan itu sangatlah wajar. Tapi kebanyakan dari kamu akan senang melihat kenyataan bahwa ternyata masih banyak temen-temen yang nilainya jauh lebih rendah dibawah kamu. Bangga?

Intinya terlalu banyak melihat ke atas akan membuat kamu merasa tidak pernah cukup atas keadaan yang kamu miliki sekarang. Sedangkan terlalu banyak melihat ke bawah, akan membuat kamu merasa bahwa β€˜ternyata saya masih beruntung lohh’ (terutama dalam contoh di atas). Hal itu yang kemudian akan membuat kamu berada di posisi nyaman dan enggan keluar dari zona nyaman tersebut.

Lalu, kapan saat yang tepat bagi saya untuk melakukan keduanya?
Saat yang tepat? Menurut saya, it’s all subjective. Kita ga pernah tau kapan kita harus bersikap sebagai apa. Bukan menjadwalkan diri kita untuk bersikap, tapi menyesuaikan diri kita untuk bersikap seharusnya. Get it?

Balik lagi ke contoh pertama, temanmu mungkin punya segalanya, uang, iphone, blackberry dan sebagainya, tapi apakah semua orang dinilai dari harta yang ia miliki? Hey! Tidak semua sikap atau perilaku dapat tercermin dari harta yang ia miliki. Keputusan ada di kamu, mau jadi orang bijak atau sombong? πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s